Sinopsis Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’

Tugas Mata Kuliah Pengantar Kesusastraan Belanda

Kelompok ‘Tanda Tanya’ Kelas A

Anggota

Ady Kurniawan

Amalia Putri Astari

Dinda Aisha

Dita Darasinta

Fikri Diani

Sabrina Amanda

Siti Huwaida

 Dosen : Eva Catarina Pasaribu

Cerpen ini merupakan salah satu dari sekian banyak cerpen A.A Navis yang menurut saya sangat layak untuk dianalisis. Untuk kalian yang membutuhkan sinopsis ini sebagai tugas semoga bermanfaat ya. Tapi sangat sayang jika tugas anda hanya berasal dari copy paste analisis saya dan kelompok saya. Jadi selamat menganalisis!

Robohnya Surau Kami

Di sebuah desa, hidup seorang kakek tua yang tinggal di surau desa. Sudah bertahun-tahun dia tinggal di surau itu sebagai penjaga surau. Karena hidup sebatang kara, dia harus menggantungkan hidupnya dari upah mengasah pisau.Biasanya masyarakat yang meminta bantuannya mengasah pisau akan memberinya sambal, rokok, ataupun sedikit uang. Tidak sedikit juga yang hanya memberinya ucapan terima kasih dan segaris senyuman. Enam bulan sekali dia mendapatkan ikan hasil pemunggahan dari kolam ikan mas yang ada di depan surau, selain itu setahun sekali ia mendapatkan fitrah Id dari orang-orang yang tinggal disekitarnya. Dia memiliki keyakinan bahwa materi bukanlah segala-galanya dan dia berpikir lebih baik ia memikirkan kehidupan nanti di akhirat dari pada kehidupan sekarang di dunia. Kakek tersebut taat beribadah sampai-sampai melupakan semua kebutuhan duniawinya.

Suatu  hari Ajo Sidi menemui Kakek di surau. Ajo Sidi dikenal sebagai seorang pembual desa yang sering menceritakan kisah-kisah yang pelaku-pelaku dalam kisah tersebut adalah orang-orang yang menurutnya mempunyai kesamaan perilaku dengan tokoh yang ada di dalam kisah karangannya. Biasanya Ajo Sidi akan menceritakan kisah yang sifatnya menghina orang yang sedang ia ajak bicara. Namun kelebihan yang dia miliki adalah, dia merupakan orang yang suka bekerja keras karena hampir sepanjang waktunya dia habiskan untuk bekerja. Ajo Sidi menceritakan kisah tentang Haji Saleh, seorang alim yang seumur hidupnya dia habiskan untuk ibadah namun di akhirat Haji Saleh tetap saja masuk ke neraka. Dalam cerita karangan Ajo Sidi, Tuhan marah kepada Haji Saleh karena dia terlalu egois sehingga mengabaikan kebutuhan keluarganya di dunia karena terlalu sibuk mengejar kehidupan indah di surga nantinya. Kakek merasa marah dan tersinggung karena cerita Ajo Sidi, tidak hanya itu, Kakek juga jadi pendiam dan kelihatan murung setelah pertemuannya dengan Ajo Sidi.Di Surau yang merupakan tempat tinggalnya itu Kakek hanya duduk dan termenung memikirkan cerita yang beberapa hari lalu didengarnya itu. Entah bagaimana Kakek merasa bersalah dan sangat berdosa, hingga pada suatu hari Kakek ditemukan telah mati bunuh diri di surau. Dia menggorok lehernya menggunakan pisau yang sebelumnya dia tujukan untuk menggorok leher Ajo Sidi demi melampiaskan kemarahannya. Ketika Ajo Sidi dicari untuk dimintai pertanggung jawabannya, Ajo Sidi malah tidak ada di rumahnya karena dia sedang pergi bekerja seperti biasanya. Dia hanya menitipkan pesan pada istrinya untuk membelikan tujuh lapis kain kafan untuk Kakek.

Penokohan

Tokoh yang muncul dalam cerpen ini ada tiga yakni:

a. Tokoh Aku

Tokoh ini sangat berperan dalam cerita pendek ini karena ‘tokoh aku’ berperan sebagai pencerita. Dengan penggunaan kata ‘aku’ sebagai orang pertama, tokoh ini berhasil membawa jalannya cerita dengan pandangan dan pemikiran si ‘tokoh aku’ tersebut. Dapat dibuktikan dari kutipan berikut:

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?”

Salah satu kutipan di atas merupakan contoh bahwa tokoh aku berperan besar dalam mengalirnya cerita dari tokoh-tokoh yang lain. Tokoh ini merupakan tokoh yang protagonis karena dia tidak menentang peristiwa apapun dan tidak menghadirkan konflik. Namun dia termasuk tokoh bulat karena terjadi perubahan psikologis dan emosional. Dibuktikan dengan:

“ “Ya , tadi subuh Kakek kedpatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.”

Astaga Ajo sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan  istriku yang tercengang-cengang.””

Pernyataan yang ditulis tebal di atas merupakan salah satu ekspresi perkataan yang menggambarkan rasa kaget dan terjadi perubahan emosional dalam diri tokoh ini.”

b. Kakek

Tokoh kakek yang merupakan tokoh utama dalam cerpen ini digambarkan sebagai orang yang lemah imannya dan mudah tersinggung        serta tidak tahan dengan perkataan negatif orang lain terhadapnya. Bisa dibuktikan karena dalam cerita ini dia dengan mudah dapat  termakan oleh cerita Ajo Sidi dan malah tidak mempercayai keyakinan yang sudah dia tanamkan dalam dirinya sendiri. Seharusnya dengan komentar orang terhadap dirinya dia bisa menintrospeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Kakek merupakan tokoh bulat karena terjadi banyak pergejolakan emosional dalam dirinya.

Kutipan yang menggambarkan bahwa dia mementingkan dirinya sendiri:

“Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri.”

Kakek juga pribadi yang mudah meledak-ledak emosinya dan mudah depresi. Dapat dibuktikan dari kutipan:

“Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek:

“Pisau siapa, Kek?:

“Ajo Sidi.”

.“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam ini, menggorok tenggorokannya.”

c. Ajo Sidi

Tokoh ini bisa dibilang jarang dimunculkan, namun kehadirannya merupakan kunci dari timbulnya konflik yang terjadi dalam cerpen ini.

Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya,”

deskripsi tokoh Ajo Sidi diatas merupakan salah satu penggambaran yang dihadirkan oleh penulis demi memulainya suatu perkenalan konflik. Lalu konflik dimulai dengan:

“”Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ado Sidji telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjanakan Kakek? Aku ingin tahu.”

Karena wataknya yang terbilang bersifat anti-held atau selalu melawan akan suatu peristiwa sehingga menimbulkan konflik maka tokoh Ajo Sidi dapat diklasifikasikan sebagai tokoh antagonis. Posisinya dalam penokohan cerpen ini adalah sebagai bijpersoon atau tokoh bawahan. Karena tokoh ini mampu memunculkan konflik yang memicu penggambaran karakter tokoh utama.

.     Tokoh Ajo Sidi juga merupakan tokoh pipih (flat) karena dia tidak mengalami perkembangan psikologis maupun kondisi emosional selama berlangsungnya cerita.

d. Haji Saleh

Tokoh yang hadir dari penciptaan Ajo Sidi ini dihadirkan sebagai penggambaran Kakek oleh Ajo Sidi. Tokoh ini termasuh tokoh bawahan karena fungsinya adalah untuk membantu kehadiran konflik yang dirasakan oleh tokoh utama. Dia juga merupakan tokoh bulat karena dia mengalami perubahan kondisi psikologis dan emosional. Bisa dibuktikan dari kutipan berikut:

“Alangkah tercengangnya Haji Saleh karena di nerakan itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan dia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri.”

Karakter Haji Saleh juga merupakan sosok yang angkuh, terbukti dari kutipan:

“Aku Saleh, tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.

Latar

Latar yang kelompok kami temukan dalam cerpen ini ada empat macam, yaitu: latar tempat, latar waktu, latar suasana dan latar sosial.

Latar Tempat

Dalam cerpen ini kita dapat menemukan latar tempat yang ada dalam cerpen ini yang sudah jelas dikatakan oleh pengarangnya, seperti perkampungan, surau, dekat pasar. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan cerpen berikut:

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.” (Paragraf pertama).

Latar tempat lainnya misalnya tergambar dari kutipan brikut:

“Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.”

Latar berikutnya yang dapat ditemukan dalam cerita adalah rumah Ajo Sidi. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut:

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istinya saja. Lalu aku tanya dia.”

Latar Waktu

Latar waktu dalam cerita ini dapat ditemukan di kalimat pertama dalam cerpen tersebut:

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan behenti di dekat pasar.”

Beberapa tahun yang lalu merupakan latar waktu meskipun tidak dengan jelas disebutkan tahun yang pasti dari peristiwa tersebut. Selain itu dapat juga ditemukan dalam kutipan cerpen berikut:

“Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai surau pada malam hari.”

Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang.”

Meskipun kata ‘pada suatu waktu’ tidak menyebutkan dengan jelas kapan peristiwa itu terjadi namun itu bisa menjadi salah satu acuan dari kalimat tersebut yang memberikan latar waktu.

Latar Sosial

Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut :

“Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.”

Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan kebiasaan atau cara hidupnya.

Perhatikan pada berikut ini.

Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, Ia memulai pidatonya: “O, Tuhan kami yang Mahabesar, kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya…”

Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini.

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab, “dan sekarang ke mana dia ?”

“Kerja”

“Kerja?,” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya. Dia pergi kerja.”

Alur

Dalam cerita ini si pengarang menggunakan alur mundur, hal ini diperkuat dengan cuplikan yang mengatakan bahwa.

“kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menggunakan bus. . . . . . . . . . . . . .Tuan temui sebuah surau tua dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana.”

Si pengarang menceritakan kisah seorang penjaga surau (kakek) mengapa saat ini si Kakek telah tiada seperti yang tertera pada cuplikan/penggalan cerita di atas dan si pengarang menceritakan tentang si kakek selama masa hidupnya.

“Sekali sehari aku datang pula mengupah kepada kakek. Biasanya kakek gembira menemaniku karena aku suka memberinya uang. . . . . . . . . . . . .tapi sekali ini kakek begitu muram”

Yang menjadikan klimaks dalam cerita ini yaitu ketika si kakek merasa sakit hati atas perkataan Ajo sidi yang kurang lebih intinya menyatakan bahwa percuma dan sia-sia kalau hidup, meskipun selama hidupnya ia bersujud, beribadah, taat bersembahyang akan tetapi melupakan kehidupannya sendiri (terlalu egois). Hal ini dibayangkan terhadap seperti tokoh Haji Saleh yang kurang lebih sama seperti kehidupan si kakek, sehingga membuat si kakek merasa kesal dan merenung akan perbuatannya (termenung sedih) seperti cuplikan diatas yang mana si kakek dahulu merasa senang apabila tokoh “aku” datang menghampirinya akan tetapi pada saat itu si kakek merasa sedang sedih.

“ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan jadi memuncak. . . . . . . . . . . .tapi kakek diam saja. . . . . . . . . . . . . . .kau kenal padaku bukan?sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan?Terkutukkah perbuatanku?dikutuki Tuhankah perbuatanku?”

Hingga akhirnya si kakek bunuh diri (meninggal) seperti yang tertera dalam cuplikan kalimat berikut

“ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur”

Dalam Bahasa Belanda cerpen ini juga disebut cerpen dengan alur ‘Raam Vertelling’ yaitu cerita berframe. Karena di dalam cerpen tersebut  terjadi pergantian tokoh pencerita dari tokoh aku ke tokoh Ajo Sidi kemudian Haji Saleh.

11 thoughts on “Sinopsis Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’

  1. amalia ngambil sastra belanda ya? beda nya sama bahasa inggris yang paling significant dari segi apa ya?

    • Karena sama2 rumpun germanik jadinya nggak terlalu beda, yang beda paling kalo di bahasa Belanda kata kerja harus selalu ada di tempat kedua kecuali di kasus2 tertentu, sisanya hampir sama kayak Inggris kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s