Macam Karya Sastra: Perbedaan Prosa, Narasi, dan Drama

Rangkuman Pembelajaran ‘Buku Membaca Sastra’dan Mata Kuliah Pengantar Kesusastraan Belanda

Oleh: Amalia Astari

Karya sastra tertulis bisa dibagi menjadi tiga yaitu puisi, prosa, dan drama. Ketigannya memiliki perbedaan yang cukup jelas dari segi bentuk; puisi memiliki bentuk berbait-bait sedangkan prosa merupakan bentuk paragraf dengan panjang yang tidak ditentukan sedangkan drama jelas berbentuk dialog. Yang membedakan antara ketiga karya sastra tersebut juga bisa ditinjau dari segi kebahasaannya, (ingebbede taalsituatie) yaitu puisi bentuknya monolog dan tidak ada percakapannya sedangkan pada prosa ada pencerita atau yang biasa disebut verteller dalan Bahasa Belanda. Dalam drama terdapat dialog antar tokoh (personage).

Ketiga karya sastra tersebut masih bisa dibagi lagi sesuai dengan gaya ungkapannya. Puisi memiliki gaya ungkapan lirik, prosa gaya ungkapan naratif sedangkan drama adalah epik.

Puisi lirik biasanya lebih mengutamakan suasana yang dibangun dari kata-kata dibandingkan tema. Makna yang disampaikan juga kerap tersirat dalam kaitannya dengan pembangunan suasana batin dalam puisi tersebut. Sedangkan epik dalam drama biasa digunakan untuk tetap mempertahankan unsur-unsur puitik pembangun suasana tapi juga menggunakan gaya prosais. Meskipun dalam drama bentuk dialog dapat membatasi ekspresi epik tersebut namun sajak naratif masih erat hubungannya dengan drama. Keterkaitan ungkapan naratif dengan prosa dapat dibuktikan dengan biasa disebutnya ‘narasi’ dengan nama lain ‘prosa narasi’.

Terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang disebut prosa narasi, yaitu semua teks karya rekaan yang tidak berbentuk dalog, yang isinya dapat berupa kisah sejarah atau sederetan peristiwa. Layaknya puisi, prosa juga bukan merupakan dominasi atau monopoli dari karya sastra karena dia dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya warta berita, laporan surat kabar, televisi dan berita. Prosa narasi paling sering muncul dalam bentuk narasi sinopsis dari film atau buku tertentu. Kelompok prosa narasi juga termasuk dalam hal ini novel atau roman, cerita pendek, dongeng, catatan harian, oto(biografi), anekdot, lelucon, roman dalam bentuk surat (epistoler), cerita fantastik maupun realistik.

Tulisan ini kemudian akan membahas mengenai unsur-unsur pembangun karya prosa.

Unsur-unsur pembangun dalam prosa antara lain adalah; tokoh, alur, latar tempat dan latar waktu.

Tokoh

Tokoh dapat dikelompokan menjadi dua yaitu tokoh utama (hoofdpersoon) dan tokoh bawahan (bijpersoon). Tokoh juga kemudian bisa dikelompokkan berdasarkan karakternya dalam narasi tersebut apakah dia protagonist atau antagonis. Dalam bahasa belanda tokoh protagonist disebut tokoh held karena dia berperan sebagai pahlawan dan mudah bekerjasama dalam pembangunan cerita. Sebaliknya, tokoh antagonis disebut anti-held yakni tokoh yang selalu memunculkan berbagai konflik dan melawan tindakan kerjasama pada cerita. Penokohan bisa juga dilakukan dengan membertimbangkan kondisi psikologis. Misalnya tokoh yang mengalami perubahan psikologis dan  kondisi emosional dalam cerita bisa disebut sebagai tokoh bulat, sedangkan tokoh yang tidak mengalami perubahan kondisi emosional dan psikologis disebut tokoh pipih.

Latar/Setting

Latar dalam hal ini meliputi tempat, waktu, suasana, dan keadaan sosial. Cara pendeskripsian latar bisa dilakukan dengan menggambarkan apa saja yang ada dalam fisik cerita misalnya

“Dia tinggal di Desa Suka Maju di rumah No. 43, rumah nomer tiga setelah belokan jalan”

Prendeskripsian latar juga bisa dilakukan dengan penggambaran suasana misalnya,

“Mala mini begitu mencekam, perasaannya sudah tidak enak sedari tadi. Jantungnya seakan-akan berdegup kencang namun melemah”

Mungkin dari keempat latar tersebut latar yang jarang dibahas adalah latar sosial. Latar keadaan sosial adalah latar yang biasanya menjelaskan hubungan tokoh dalam cerita dengan lingkungannya. Misalnya menceritakan tokoh yang merupakan pemuka agama di sebuah desa. Atau bisa juga menceritakan tentang interaksi sosial antar kemasyarakatn dalam cerita tersebut.

Struktur Penceritaan Narasi

Narasi biasanya dikisahkan oleh “seseorang” kepada “pendengar”. Dalam Bahasa Belanda, pencerita disebut ‘Verteller’. Pencerita/verteller/narrateur ini tidak identik dengan pengarang. Jadi bisa dikatakan bahwa Verteller bukan harus selalu pengarang. Verteller nantinya akan menggunakan kata ‘aku’ untuk menyebut dirinya dalam cerita itu. Tokoh ‘aku’ biasa disebut dengan pencerita akuan. Pencerita akuan ini adalah tokoh dalam cerita tersebut tapi tidak harus selalu tokoh utama.

Penggunaan kata ‘dia’ atau ‘ia’ dalam cerita menunjukkan posisi tokoh tersebut sebagai orang ketiga. Maka dari itu tokoh tersebut dikenal dengan pencerita diaan.

Perbedaan sudut pandang kedua jenis pencerita/verteller dalam cerita dapat dibagi menjadi tokoh internal dan eksternal. Tokoh internal seperti ‘aku’ melibatkan dirinya di dalam cerita sedangkan tokoh ‘dia’ termasuk eksternal karena tidak melibatkan diri sebagai tokoh dalam cerita tersebut. Pencerita ekternal juga biasa disebut dengan alwetende verteller (pencerita maha tahu) karena dia mengetahui semua maksud dan pikiran tokoh serta alur yang ada dalam cerita. Pencerita eksternal ini juga memandang semua pribadi tokoh tidak hanya dari fisiknya namun juga dari dalam atau melalui karakter tokoh tersebut (fokalisasi)

2 thoughts on “Macam Karya Sastra: Perbedaan Prosa, Narasi, dan Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s