Agamaku, tradisiku?

“Ibu banyak bercerita tentang Tuhan. Tentang Ia yang mauNya tak boleh ditentang. RumahNya yang nanti akan jadi persinggahan non-fana. LaknatNya untuk setiap ciptaan yang mengekang. Aku lahir dari cerita-cerita ibu tentang Tuhan. Sampai akhirnya aku tumbuh dan mencari cerita lain, tentang Dia.”

Manusia biasanya menelan mentah-mentah apa yang dia tahu. Tanpa melakukan kros cek lanjutan mengenai kebenarannya. Mereka bahkan tidak pernah peduli, apa yang mereka jalani adalah sebuah aforisme atau bukan. Begitupun pemahaman manusia tentang agama. Yang mereka tahu hanya, agamanya adalah agama ibunya, bapaknya, neneknya, buyutnya dan seterusnya. Ini yang membuat agama bukan lagi menjadi hal yang sakral, melainkan hanya sebatas tradisi.Tradisi beragama yang diceritakan pendahulu sampai padanya dan kemudian ditelan mentah-mentah.

Bagi umat yang merasa dirinya beragama, ibadah hanya sebatas lanjutan kisah masa lalu.

Manusia berlomba-lomba menghafal ayat-ayat di kitab. Tak kalah sibuk bersolek dengan perangkat keagamaan. Berlari kalang kabut bahkan sampai adu sikut untuk jadi yang paling benar di mata Tuhan.

Hampir sebagian orang (sepertinya) sudah khatam benar menyoal iman dan praktek keagamaan. Salah satu kenala saya, lahir sebagai seorang muslim. Setahun yang lalu ia memutuskan menikahi pria beda agama. Atas dasar cinta dan pertimbangan hidup bersama dia akhirnya pindah agama. Ibunya murka tak lagi mau akui ia sebagai anak. Dia dianggap murtad. Dianggap kafir. Itulah agama yang kita kenal sekarang. Agama ibumu ya agama kamu. Dengan titik dan tanpa koma.

Suatu saat saya bertemu orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai “unbeliever”. Dia tidak percaya ada yang namanya Tuhan. Tidak percaya bahwa manusia itu diciptakan oleh yang namanya Tuhan. Dia juga tidak percaya akan kehidupan setelah kematian. Setiap pertanyaan saya yang menyangkut keyakinannya itu bisa ia jawab dengan sangat sempurna. Dengan menggunakan pengetahuan filsafat dan sainsnya, dia bisa dengan santai menjawab pertanyaan ketuhanan saya. Bahkan terkadang jawabannya membuat saya diam dan berpikir kalau-kalau jawaban dia ada juga benarnya.

Jika dibilang bahwa saya merupakan penganut agama yang setengah-setengah, saya bukan. Saya seorang muslim, saya sholat lima waktu, saya puasa, saya bisa membaca Al-Quran. Tapi terkadang eksplorasi orang-orang tentang ketuhanan bisa membuat saya mengangguk-anggukkan kepala saya. Membenarkan ucapan mereka.

Mungkin jika filosofi ketuhanan macam Nietzsche saya masih anggap terlalu keterlaluan. Tuhan itu tidak bisa dibunuh, dan manusia bukan purnanya dunia. Saya bisa berbicara seperti ini tentu saja karena saya selama 18 tahun merupakan seorang muslim. Yang mendengarkan cerita tentang Tuhan dari ibu saya.

Namun terkadang saya bisa saja membenarkan diktum Sartre, “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan segala kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak.

Ya, saya sedikit banyak setuju dengan ajaran filsafat eksistensialisme. Ajaran ini sifatnya rasional. Tidak mengekang, tidak melulu memerintah dan memberikan otoritas. Apapun itu, selama dianggap baik oleh manusia itu untuk hidupnya maka, jalankanlah. Ajaran ini memberikan alternatif untuk saya memilih, bukan lagi menjalankan tradisi yang sudah ada. Jadi keimanan yang saya miliki bukan sekedar formalitas.

Bagaimanapun itu sejauh apapun saya mencari ‘cerita tentang Tuhan yang lain’ saya tetap kembali lagi ke titik awal saya berdiri. Spiritualitas awal yang saya miliki sejak lahir. Saya masih seorang beragama yang takut jadi pendosa. Saya takut untuk mencari tahu dimana Tuhan berada. Tapi ada hal yang berubah sekarang. Saya tak lagi takut untuk memberikan otoritas atas kehidupan saya sendiri.

Karena jika kamu manusia yang beriman, berakidah, dan percaya akan apa yang kamu yakini, akidahmu bukan hanya sekedar…

Pencarianmu akan hal itu juga tidak akan berhenti hanya sampai, sekedar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s