Apa itu Takdir

“Is fate absolute or changable? Is fate a denial for those who weak or not? “

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian buruk yang belum pernah saya alami sebelumnya. Kecopetan! Haha

Jadi kejadian ini bermula dari perjalanan saya dari Depok menuju Lebak Bulus dengan menggunakan Bus Deborah.

Bus ini dikenal dengan ketidakmanusiawiannya sebagai transportasi umum. Bagaimana tidak? Hari itu saya dipaksa berjejer bak tahanan zaman koloniale oorlog di operasi Quantico Belanda. Memang salah saya yang pulang pada saat jam pulang kerja. Singkat cerita saat sudah turun bus saya sadar kalau headset ipod saya sudah keluar dari tas dan ngelewer ke bawah. Waktu saya cek, dompet saya yang isinya ipod, flashdisk, ktp, dan uang receh sudah raib. Langsung saya cek barang lain saya ternyata yang hilang hanya dompet itu.

Langsung saja saya sms ibu saya. “Bu dompetku isinya ipod ktp flashdisk ilang”

Satu menit kemudian ibu saya membalas “Yah mau gimana lagi, takdir.”

Kemudian saya melanjutkan perjalanan saya menggunakan angkot dari Lebak Bulus. Di perjalanan saya malah berpikir tentang kata ‘takdir’ yang ibu saya tulis di sms tadi.

Saya pernah membaca buku mengenai determinisme yang isinya kurang lebih ngomongin takdir.  Bagi sebagian orang kata ‘takdir’ merupakan sebuah solusi bagi permasalahan yang ada. Misalnya saat munculnya pertanyaan; “Kenapa MU kalah dari Arsenal ya?” Jawaban yang bisa dijadikan solusi adalah “Yaaah sudah takdir kali dari Tuhan.” *Gooners detected//Come on you Gunners*  :p

Seakan-akan tidak ada jawaban lain yang lebih baik daripada itu.

Padahal sebenarnya takdir bukanlah sebuah solusi instan untuk suatu pertanyaan melainkan sebuah cara berpikir dari manusia. Takdir bagi saya adalah cara seorang manusia memandang bahwa suatu kejadian merupakan hal yang sudah ditentukan oleh Tuhan atau tidak. Semua orang juga sepertinya setuju bahwa takdir bisa diubah, tapi jarang ada orang yang mau mengubah takdir, toch?

Dalam ilmu filsafat biasanya dikenal tiga pendekatan logika dalam memandang takdir atau bahkan dalam memandang semua hal. Takdir dengan pemahaman logika Tuhan, logika alam, dan logika manusia.

Takdir Tuhan menurut saya dapat dilakukan untuk memberikan determinisme dalam hal-hal yang sifatnya cenderung absolut atau hal-hal yang memerlukan analisis diluar kemampuan manusia. Sedangkan pemahaman takdir dengan logika alam sifatnya memang membutuhkan ‘penggerak’ atau ‘aktor formal’ yang disebut Tuhan sebagai asal mula suatu peristiwa yang nantinya akan dilanjutkan dan ditentukan oleh alam itu sendiri. Yang terakhir adalah logika manusia. Logika manusia inilah yang kemudian menjadikan kerancuan antara takdir yang bisa dan tidak bisa diubah.

Pandangan takdir melalui logika manusia ini ditentukan oleh banyak faktor. Bisa jadi faktor pendidikan, usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan lain sebagainya berpengaruh dalam hal ini.

Misalnya, seorang anak yang memang rasa ingin tahunya masih lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa akan selalu melontarkan pertanyaan yang sifatnya skeptis terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling mereka.

Kita ambil contoh bencana alam tsunami.

Seorang anak akan bertanya;

“Pah, tsunami itu apa?”

“Tsunami itu bencana alam.”

“Itu dari laut ya?”

“Iya dari laut”

“Kok airnya bisa tinggi gitu pah?”

“Iya itu ada lempeng tektonik bumi di bawah laut yang geser”

“Kok lempengnya bisa geser pah”

“Iya itu takdir Tuhan. Makanya kita harus sering-sering berdoa ya. Kamu juga harus mendoakan korban yang meninggal di sana.”

“Mereka kok meninggal memangnya nggak ada yang ngasih tahu kalau bakal ada tsunami?”

“Itu takdir yang tidak bisa dilawan manusia nak”

Padahal dalam peristiwa tersebut ada banyak cara untuk ayah itu menerangkan bagaimana bencana tsunami itu tidak memakan korban jiwa. Dengan memastikan alarm peringatan tsunami dalam kondisi yang baik misalnya. Namun orang dewasa cenderung melihat suatu hal hanya dari pandangan takdir sebagai nasib. Padahal takdir dan nasib adalah dua hal yang jelas berbeda.

Pendekatan psikologis juga bisa dilakukan untuk menganalisis apakah suatu kejadian adalah takdir atau bukan.

Misal: Nanny mendapatkan nilai 45 dalam ujian kalkulusnya. Jika Nanny tidak belajar untuk ujian tersebut maka Nanny tidak bisa menyebut bahwa yang dialaminya adalah sebuah takdir absolut. Dia bisa menyebutnya takdir namun dinamakan takdir relatif. Takdir yang sifatnya tidak mutlak dan masih bisa diubah dengan menggunakan logika manusia.

Nah bagaimana dengan nasib?

Kalau menurut saya sih kata ‘nasib’ sekarang ini cenderung digunakan oleh orang-orang ketika mereka mengalami kejadian yang tidak menguntungkan. Nasib ini juga biasanya menggunakan pendekatan psikologis; yaitu menggunakan pertimbangan bahwa suatu peristiwa dapat berubah tergantung motivasi dan usaha dari masing-masing orang. Serupa dengan takdir, nasib juga dibagi menjadi dua; nasib absolut dan relatif yang tidak bisa dan bisa diubah.

Dalam hal ini saya mengkategorikan kejadian kecopetan yang saya alami adalah sebuah takdir yang sebenarnya relatif namun saya buat seperti absolut. Karena saya bisa saja lebih berhati-hati dengan tidak naik bus itu di jam-jam sangat penuh saat jam pulang kerja. Saya juga bisa menaruh dompet saya di resleting yang lebih sukar dijangkau oleh pencopet tersebut. Namun saya tidak melakukannya sehingga saya menjadikan segalanya lebih mudah untuk si pencopet dan menjadikan takdir saya absolut.

PS: Buat lo yang seminggu lalu nyopet dompet gue, udah gue ikhlasin kok semuanya. Cuman as you know, if you want to know and if you could know that…. skin ipod Kurt Cobain itu gue suka banget lho dan buatnya lama banget hampir 3 bulan.. hiksss. Terus game 100 floors gue udah capeeekkk bgt bisa sampe level 98 tapi belom sempet tamat, tamatin ya kalo bisa :’) (Lvl 98 is a total ass yea ass i told you AZZ).

Satu lagi deh “Emang takdir dicopet sama lo, tapi profesi lo sebagai pencopet juga keitung takdir relatif lho, bisa diubah.. If you want..”

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s