Acak

Untitled 121

Tiga jam tersisa sampai tanggal berubah jadi sembilan dan Selasa berganti jadi Rabu. Aku masih jadi perempuan biasa yang selalu berpikir bisa jadi ‘orang’ tapi belum bisa berbuat apa-apa. Namun hidup lagi-lagi soal pilihan, apa kamu mau berubah atau diubah. Entah berubah karena keadaan atau diubah keadaan. Aku akhirnya harus memilih, dan aku memilih untuk untuk berubah.

“They always say time changes things, but you actually have to change them yourself.”
― Andy Warhol, The Philosophy of Andy Warhol

Setiap manusia pasti menjalani hidupnya degan cara yang berbeda. Ada yang pada jam-jam segini sedang bergulat dengan kemacetan Ibu Kota, ada yang menikmati udara dingin pegunungan, ada juga yang sedang bergumam kecil di pinggir pantai yang makin malam makin hangat rasanya. Lingkungan mengubah tiap manusia jadi pribadi yang berbeda. Mereka yang bergulat dengan kemacetan akan menjadi orang-orang bosan, kemudian kesal, lama kelamaan tak sabar dan marah pada keadaan. Mereka yang dimanjakan pemandangan gunung, sawah, atau pantai akan dibuai dengan sisi lain kehidupan yang disebut alam. Menjadikan mereka pribadi yang tenang dan tidak memaki pada keadaan.

“Holding anger is a poison…It eats you from inside…We think that by hating someone we hurt them… But hatred is a curved blade…and the harm we do to others…we also do to ourselves.”
― Mitch Albom, The Five People You Meer in Heaven

Tapi mereka bisa berubah, seperti yang tadi aku bilang, hidup lagi-lagi adalah soal pilihan. Dulu aku adalah anak perempuan yang pendiam, cengeng, tidak suka keramaian dan selalu mengalah. Menginjak beberapa titik dalam hidupku, aku menjadi pribadi yang lebih terbuka (sedikit lebih terbuka), periang, dan paham kenapa Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon, makhluk sosial. Aku lebih bisa menerima keadaan untuk berinteraksi lebih intens dengan sekitar. Keadaan menjadi semakin menyenangkan apalagi ketika aku menemukan orang-orang yang punya kesamaan denganku, atau yang bisa memberikan rasa nyaman buatku.

Waktu berganti sampai aku jadi sosok yang ‘butuh panggung’. Rasi bintang Leo sangat dominan di diriku dan untungnya aku berada pada jalur yang tepat. Aku menyalurkan aksi ‘zodiak Leo’ di atas panggung yang sebenarnya. Menjelajahi satu lomba ke lomba lainnya, mulai dari presentasi esai, speech contest, storytelling, bahkan lomba lari pun kucicipi, sampai akhirnya aku jatuh cinta pada English debating. Semuanya begitu menyenangkan, aku menikmati tiap detik saat mata tiap orang terarah hanya pada aksiku, dan telinga-telinga mereka mendengarkan hanya pada omonganku. Makin puas apabila mereka menunjukkan reaksi senang dan sependapat denganku. Rasanya aku benar-benar bahagia berada di bawah lampu sorot panggung. Tapi semua itu suatu saat akan berubah dan aku sesegera mungkin akan mengetahuinya.

“Do not let your fire go out, spark by irreplaceable spark in the hopeless swamps of the not-quite, the not-yet, and the not-at-all. Do not let the hero in your soul perish in lonely frustration for the life you deserved and have never been able to reach. The world you desire can be won. It exists.. it is real.. it is possible.. it’s yours.”
― Ayn Rand, Atlas Shrugged

Melepas embel-embel siswa dan menambah prefiks ‘maha-’ di depannya sehingga kata itu berubah menjadi ‘mahasiswa’. Rasanya seperti meginjakkan kaki di tempat baru untuk pertama kalinya, sangat gugup aku, begitu menegangkan. Di waktu yang sama semuanya begitu menyenangkan. Bayangkan saja, selama tiga tahun aku harus menahan rasa muak akan semua pertemuanku dengan angka-angka dan rumus. Mati-matian menghafal rumus kimia di hari yang sama saat aku akan begitu senang bertemu pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan mata pelajaran olahraga jadi pelarianku saat matematika semakin membuat aku gila. Aku sedikit lega saat aku diterima di Sastra Belanda karena artinya tidak akan ada lagi angka-angka dan rumus yang sudah menghantuiku sejak aku umur enam tahun dan yang ada nantinya hanyalah buku.

“A rogue does not laugh in the same way that an honest man does; a hypocrite does not shed the tears of a man of good faith. All falsehood is a mask; and however well made the mask may be, with a little attention we may always succeed in distinguishing it from the true face.”
― Alexandre Dumas, The Three Musketeers

Sekarang aku menjadi mahasiswa dan lingkungan telah mengubahku jadi pribadi yang berbeda. Mungkin ini seperti siklus yang dimulai di titik A kemudian berakhir di titik yang sama, titik A. Aku kembali jadi pribadi yang tertutup dan mulai sinis dengan pandangan Aristoteles tentang zoon politicon. Aku tidak lai mencari panggung agar aku bisa bahagia, aku malah mencari rak buku dan tempat membaca yang nyaman. Aku memilih untuk tidak berbicara di depan orang banyak, aku lebih suka melihat dan mendengar. Aku tidak mudah mengiba dan percaya pada manusia akhirnya aku pun lebih menyukai pernyataan Hobbes mengenai homo homini lupus, manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. Mereka mungkin tersenyum di depanku tapi di belakangku? Apa mereka masih sosok yang sama? Begitupun dengan aku, aku mungkin bilang kalau kau baik tapi di pikiranku aku telah menertawai kebodohanmu atau mengucap kata sinis tentangmu. Manusia itu, bertopeng dan manusia adalah binatang yang haus akan keinginan. Tapi jangan dengan mudah menyimpulkan kalau aku ini jahat, atau jangan mengatakan kalau aku baik. Tidak ada manusia yang punya kapasitas untuk menilai manusia lain. Itulah yang selalu aku yakini, namun tetap saja..

Kata terlalu mudah untuk diucap

terlampau sulit dilakukan

Kata akan tetap menjadi sekedar kata

meski mati-matian kau berikan mereka nyawa

Aku belum berhasil menemukan cara untuk menghadapi dunia yang katanya begitu kejam ini. Aku tidak berupaya menggunakan topeng seperti manusia lainnya dan aku berusaha untuk sebisa mungkin tidak menggunakannya. Saat aku mulai menjadi sosok yang sepi, dan tidak butuh hal-hal normal selayaknya orang lain, aku akan menghindari keramaian. Persis seperti ketika aku masih kecil, aku tidak suka keramaian. Tapi lingkungan bisa mengubah sosokku bergantian bahkan aku tak ada daya untuk mengaturnya. Tapi aku mau berubah.

Hidupku kini adalah buku dengan lembaran-lembaran yang warnanya hampir semua serupa. Tapi apalah arti dari warna-warna kalau isinya tak bisa memenuhi kemauan pembaca. Apalah artinya halaman yang berbeda-beda kalau akhirnya pembaca tidak mau membolak-balikkan halaman-tiap halaman buku tanpa raut wajah terkesan. Aku tidak tertarik memberikan warna bagi halaman-halaman bukuku, tapi bukan berarti aku tidak mau mewarnai halaman buku orang lain.

Aku sudah terlalu banyak mendengar dan berbicara. Tapi aku jarang percaya dan meng-iyakan apa yang aku dengar dari orang lain. Seperti yang dikatakan Buddha Siddhārtha Gautama bahwa,

“Believe nothing, no matter where you read it, or who said it, no matter if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense.”

Bahkan sekarang, apa kau masih percaya dengan semuanya? Hidupmu? Perkataanmu? Ucapan orang lain padamu? Dan masihkah kau percaya pada apa yang telah aku tuliskan. Percayakah kau dengan tulisanku?

//

3 thoughts on “Acak

  1. Paling bisssaaa deh si master kalo nulis hahaha nice master. Anyway lo beneran nggak suka kimia? padahal lo kan master kimia buat gue uwwwh.. so sad..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s