Memori Ringkas

Untitled

Hari ini hujan. Aku duduk di samping jendela sambil memikirkan seberapa bisanya aku jujur. Bahkan jujur untuk diriku sendiri pun aku tak bisa. Aku terlalu ingin melupakan siapa diriku sebenarnya. Melupakan diriku yang masa ini, dan masa lalu, bahkan diriku yang masa depan. Melupakan aku-aku yang tadi dan menggantinya dengan sosok lain yang kuanggap lebih ideal. Kadang menjadikan ‘aku’ seperti orang yang sudah ada, atau orang yang tidak ada tapi kubikin ada.

Hari ini hujan. Aku sadar kalau terus-terusan aku membohongi diriku sendiri berarti terus-terusan juga aku yang sebenarnya akan sakit hati. Raga merasa diremehkan oleh jiwanya dan jiwa juga sama merasa diremehkannya dengan raga. Aku ingin jujur, dengan cara mengulang lagi ingatan aku yang dulu. Mengingatkan diriku sendiri siapa sebenarnya aku.

Hari ini hujan dan tulisan ini akan kulanjutkan.

Semasa TK.

Aku duduk dan bermain lego di pojok kelas. Duduk di samping Resti, teman dekatku atau bisa dibilang satu-satunya temanku waktu TK dulu. Sesekali mata besarku yang kurang pas dengan wajah kecilku terarah ke jendela. Mencari sosok ibu yang setiap detik menampakkan kepalanya dari balik jendela. Aku dan Resti hampir menyelesaikan bangunan lego yang kami buat bersama. Tinggal pasang atapnya, dan bangunan kami jadi sudah. Mencari atap memang pekerjaan yang amat susah karena ada banyak anak egois yang memasang atap lebih dari satu di atas rumah-rumahan lego milik mereka. Bahkan kadang ada yang memasang sampai empat atap. Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, akhirnya mataku menangkap atap lego berwarna merah di ujung karpet. Kuambil atap lego itu dan kuberikan atapnya pada Resti. Memberikannya kehormatan untuknya memasang atap di puncak lego kami. Tidak indah memang. Hanya bangunan lego sederhana, tapi rasanya menyenangkan bisa menyelesaikannya. Rasa senang itu sayang cuma mampir sebentar. Tiba-tiba ada sosok tubuh gempal yang memisahkan atap merah itu dengan bangunan milikku dan Resti. “Ini punyaku, aku duluan yang ambil,” tegurnya sambil melotot. Badanku yang hanya setengah badannya memaksaku untuk diam, tidak melawan. Waktu itu aku umur lima, dan aku sudah menulis takdirku sebagai seorang pengecut.

Anak gendut yang merebut legoku tadi masih sering kujumpai di timeline Twitter sampai sekarang. Sepertinya dia sudah tidak segendut dulu. Aku hanya mau berterima kasih karena berkatnya, aku jadi sadar kalau ada sisi “pengecut” dan “penuh rasa takut” dalam diriku. Terima kasih. 

 Waktu SD

Aku masuk kelas 1D. Kelas terbawah nomor dua setelah 1E. Entah berapa nilai rata-rata tes masukku waktu itu, yang jelas aku payah. Beranjak kelas dua aku mengalami kenaikan ‘kasta’. Aku masuk kelas 2C. Di kelas dua yang kuingat adalah aku payah dalam hitung-hitungan. Sangat menyebalkan ketika harus berbaris di pagi hari dan menjawab soal perkalian untuk bisa masuk ke kelas. Kalau tidak bisa? Yah harus baris lagi. Biasanya aku mengulang baris sampai dua kali. Kadang juga bisa langsung menjawab dan cepat masuk kelas. Itu pun kalau otakku sedang ramah dengan hitung-hitungan. Aku tidak bisa menulis sambung. Garis-garis di buku tulis sambung rasanya selalu menyiksaku. Aku payah di tulisan sambung. Herannya aku dapat ranking dua bahkan ketika aku tidak ingat aku punya ketertarikan dalam pelajaran. Rangking kelas itu membawaku sampai ke kelas 3B dan kasta B adalah kastaku sampai aku lulus SD.

Di SD aku punya empat teman dekat. Aku tidak ingat pernah menyebut mereka sahabat yang jelas mereka teman dekat. Mereka sangat baik dan menyenangkan. Sayang aku kurang bisa menjaga relasi pertemanan. Karena tidak pernah datang reunian, tali pertemananku dengan mereka nyaris seperti bayangan. SD bagiku tidak terlalu mengesankan. Entah karena ingatan enam tahun itu hilang, atau aku yang menghilangkannya.

Maafkan aku, teman-teman SD-ku. Aku memang payah.

 Waktu SMP

Aku jatuh hati pada pelajaran English Conversation. Pelajaran bahasa Inggris beserta grammar dan structure-nya selalu menyiksaku tapi EC berbeda. Guruku namanya Mr. Agus. Dia guru yang baik. Aku selalu suka suaranya yang berat dan bahasa Inggrisnya yang waktu itu menurutku sangat sempurna. Di kelas tujuh, delapan dan sembilan rasanya suasana dan orang-orangnya berubah-ubah. Nyaris tak pernah sama. Kadang menyenangkan, namun kemudian membosankan. Ada yang bikin senyum, bahkan sampai bikin tertawa terbahak-bahak tapi ada yang bikin menangis. Entah menangis karena hal-hal bodoh atau memang yang menyedihkan.

Sejak kelas tujuh sampai lulus SMP aku ikut ekskul paskibra. Di masa pelantikannya aku diharuskan mengelilingi pos-pos yang adanya di sekitar gedung sekolahku. Baru saja aku meninggalkan pos dua dan mencari pos tiga tapi aku tidak bisa juga menemukannya. Aku kelabakan ngeri. Takut tidak bisa lanjut. Takut ditinggal. Takut jadi yang paling belakang. Sementara kulihat temanku sudah ada yang menemukan pos lima. Aku panik dan memutuskan untuk pura-pura sesak napas. Aku lupa apa itu sepenuhnya pura-pura atau memang aku benar sesak napas karena panik. Yang bisa kuingat setelahnya adalah aku sudah terbaring di atas meja dan di sebelahnya ada dua senior paskibraku.

‘Tadi jaga di pos mana lo?’

‘Pos dua gue’

‘Pengetahuan umum ya? Susah nggak pertanyaannya?’

‘Gampang kok, tapi masa ada yang salah semua jawabnya’

‘Siapa?’

Tidak ada suara kemudian.. Tapi di pikiranku, dengan mataku yang terpejam, aku bisa melihat telunjuk kakak senior lelaki yang gemulai ini terarah kepadaku. Ya, orang itu aku. Aku yang tidak bisa menjawab satupun soal pengetahuan umum di pos yang ia jaga.

Aku bukannya bodoh. Jika dibandingkan rapotnya dengan punyaku pasti rata-rataku jauh di atas mereka. Aku hanya heran, jika ada pertanyaan: Siapa Miss Universe tahun ini? Apa aku wajib tahu? Sayangnya aku tidak punya ketertarikan akan hal-hal semacam itu. Karena kau tahu? Sejak dulu aku benci kompetisi beuty pageants. Atau pertanyaan macam: Jatuh pada tanggal berapakah pertistiwa Bandung Lautan Api? Apa harus kuingat-ingat? Bagiku hal itu hanya sederetan tanggal dan tahun yang pantas diingat jikau kau mau ujian sejarah. Aku memang bukan orang yang peduli pada hal-hal yang semestinya dipedulikan. Atau memang hal-hal tersebut harusnya tidak penting untuk dipedulikan? 

Mr. Agus, kita pernah bertemu di terminal Lebak Bulus. Waktu itu anda mengantar istri dan anak anda naik bus GR subuh-subuh. Sekilas anda melihat kearah saya dan anda pastinya sudah tidak mengenali saya lagi. Waktu berubah, saya juga berubah.

Semasa SMA

Rasanya dulu, di hari-hari pertama masuk SMA, aku seperti bertransformasi dari anak-anak ke remaja. Sampai SMP dulu, aku belum merasa pantas disebut remaja. Tapi sejak seragamku berubah jadi putih abu-abu rasanya berbeda. Tapi kenyataannya, ketika sudah ada di kehidupan SMA, rasanya sama saja. Manusia masih seperti biasa. Kehidupanku juga sama biasanya. Banyak yang bisa diingat dari kehidupan SMA. Ada banyak sosok yang bisa kuceritakan. Ada banyak sosok yang membuatku tertawa terbahak-bahak atau malahan menangis tersedu-sedu. Tapi saat aku berhadapan dengan layar monitor ini, kesepuluh jariku rasanya bekerjasama dengan ingatanku untuk menulis tentang seorang guru. Bukan guru yang begitu lama kukenal. Bukan juga seorang wali kelas yang sempat melewatkan satu dua harinya saat ramadhan untuk buka puasa bersama. Bukan juga guru galak yang membuatku sampai mati tidak bisa melupakannya. Guru ini guru biasa. Guru ini bernama Pak Liman. Dia adalah guru bahasa Indonesia. Aku pernah bercerita di post sebelumnya kalau aku dulu belajar di jurusan IPA. Di jurusan sialan itu aku tidak pernah merasa bahagia –maksudku karena pelajarannya. Aku yang jelas-jelas tidak punya ‘bakat’ di bidang eksakta ini harus jalan merangkak (setelah jatuh tersungkur dan tak bangkit-bangkit lagi) untuk bergulat dengan angka-angka dan rumus-rumus lainnya. Seperti yang pernah kuceritakan, aku selalu mencari ‘surga’ lain di antara mata pelajaran eksak itu. Dan bersenang-senang di pelajaran bahasa merupakan salah satu gaung pelarianku. Di kelas Pak Liman, aku menemukan diriku yang sebenarnya. Mungkin juga bukan diriku yang sebenarnya tapi setidaknya aku suka ‘aku’ yang berada di kelas itu.

Kalimat, kata-kata, tanda baca, cerita, puisi, semuanya, adalah kerabatku di sana. Mereka mengantarkanku ke sebuah pintu yang di depannya bertuliskan ‘SASTRA’. Aku membuat puisi, membacakannya di depan siswa berbaju putih abu lainnya di kelas. Meskipun aku yang sekarang sadar bahwa puisi sekelas apapun jika dibaca di depan kelas, dengan penghayatan sedalam apapun, hasilnya pasti akan diikuti cekikik teman-teman yang menganggapnya lucu – aku sendiri juga menganggapnya lucu. Tapi aku tahu kalau aku dulu sedang berkenalan dengan yang namanya ‘SASTRA’. Meski puisiku hanya omong kosong yang hadir dari kata-kata kosong yang berbaris di bait yang sama kosongnya, tapi aku sadar kalau kalau kata-kata kosong tadi menuntunku ke sebuah tempat. Tempat ke mana aku harus pergi setelahnya. Aku ingat, suatu hari selepas pelajaran Pak Liman, beberapa langkah setelah keluar kelas, aku memutuskan kalau aku harus pergi ke tempat yang aku suka. Ke tempat yang di dalamnya menebarkan perasaan nyaman. Di sebuah tempat yang dulu sempat jadi pelarian, dan dengan cepat aku mengumpulkan semua keberanian. Aku. Memutuskan. Untuk. Masuk. Ke dalam. Sebuah. Pintu. Bertuliskan. Sastra.

Kau tahu kenapa aku selalu menganggap mulia — bahkan sakral — pekerjaan yang dinamakan ‘GURU’? Karena mereka adalah para penyulap bibit. Mereka yang menyiram tanah yang awalnya kering, memberikan tanah itu pupuk, menyuguhi matahari, dan membiarkan bibit-bibit tadi tumbuh bebas di atasnya. Sekarang aku adalah salah satu bibit yang berhasil menjadi tanaman. Tanaman yang tumbuh bebas. Aku tanaman jalar yang bebas menjalar ke arah mana saja. Aku yang memilih. Sendiri. Kemana. Aku. Mau. Pergi. Dan aku sekarang berada di sini… Terima kasih, Pak Guru. 

 

2 thoughts on “Memori Ringkas

  1. memori2 dlu kadang begitu saja hinggap dan kita jd berpikir knpa kita sekarang seprti ini dan dulu seperti itu..

    berkunjung balik mba, waah ternyata mba guru ya..

    • Terima kasih kunjungannya, Mas. Artikel di blog mas tentang au bon marche sangat informatif untuk tugas kuliah, thanks by the way.
      Ngomong-ngomong saya bukan guru😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s