Franz Kafka

kafkaa

Biasanya saya hanya butuh waktu sehari untuk membaca buku yang halamannya 200-an. Dan biasanya juga saya akan langsung menaruh buku yang telah selesai dibaca di selipan rak buku yang sudah penuh sesak dan tidak membacanya untuk kedua, ketiga, atau keempat kalinya saat itu juga. Terlebih biasanya lagi saya tak pernah menilai suatu buku itu menarik hanya dengan membaca kalimat pertama. Tapi kalau tadi ‘biasanya’, sekarang berarti saya mengalami hal yang ‘luar biasa’.

Als Gregor Samsa eines Morgens aus unruhigen Träumen erwachte, fand er sich in seinem Bett zu einem ungeheuren Ungeziefer verwandelt.

*Suatu pagi, saat Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya, dia sadar kalau dia menjadi serangga besar.

The Metamorphosis by Franz Kafka

Sebelum memutuskan untuk membaca buku ini, saya masih ragu karena penampilan halaman depannya yang terlihat membosankan. Saya sama sekali tidak mengira kalau isi dari novel ini menyentuh aliran eksistensialisme dan surealisme. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, saya merasa tersihir sekaligus penasaran hanya dengan membaca kalimat pertama.

Kenapa? Kenapa Gregor Samsa menjadi serangga? Siapa Gregor Samsa itu? Kenapa manusia bisa bermetamorfosis? Menjadi serangga?

Pertanyaan-pertanyaan tadi langsung berlomba-lomba memasuki tiap sudut di pikiran saya. Sampai otak saya memberi perintah motorik ke mata untuk terus membaca buku ini sampai selesai. Dan hasilnya? Menakjubkan! Sebuah karya sastra yang indah sekaligus memiliki banyak makna-makna simbolis yang bisa dikaitkan di kehidupan manusia sehari-hari.

Bercerita tentang Gregor Samsa yang berjuang mati-matian bekerja untuk memenuhi kehidupan hidupnya dan  keluarga dengan menjadi seorang penjual kain keliling (door to door). Namun tiba-tiba dia harus berhenti bekerja karena suatu pagi dia berubah menjadi seekor serangga. Cerita ini merepresentasikan usaha manusia untuk bekerja tanpa henti demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seperti yang kita tahu, uang adalah segalanya dan bekerja adalah segala cara untuk mendapat uang. Kadang manusia harus bekerja meski dia tidak suka. Seperti yang saya simpulkan dari tokoh Gregor Samsa, dia tidak suka pekerjaannya tapi keadaan yang memaksa.

Cerita di buku ini memang diawali dari cerita Gregor yang berubah menjadi serangga dan kemudian dilanjutkan dengan kilas balik kehidupan Gregor sebelumnya. Setelah berubah menjadi serangga, Gregor kemudian diasingkan oleh keluarga karena dianggap sebagai makhluk aneh yang menjadi aib. Saya menganggap ini sebagai bentuk alienasi yang dilakukan oleh lingkungan sosial bahkan dalam hal ini lingkungan terdekat, yakni keluarga Gregor sendiri.

Sejak usaha butik ayah Gregor bangkrut, Gregor-lah yang bekerja menggantikannya. Dia bekerja membanting tulang untuk mempertahankan gaya hidup mewah keluarganya yang jatuh miskin. Namun setelah berubah menjadi serangga dia tidak lagi dianggap ada, bahkan diasingkan di dalam sebuah kamar serta diperlakukan sebagai makhluk aneh yang menakutkan. It shows his struggle for acceptance of others in a time of need. Keluarganya bahkan sempat berpikir untuk membuangnya ke hutan. Well, ini memang cerita surealis, namun jika dimaknai di kehidupan sebenarnya, hal ini bisa jadi terjadi di sekitar kita. Toh manusia sering bersikap baik pada orang lain ketika dia membutuhkan orang itu, dan ketika sudah tidak membutuhkannya, orang itu dilupakan. Ini opini generalisasi saya saja tentang manusia, jangan dimasukkan hati.

Lebih jauh lagi, perubahan Gregor yang menjadi serangga juga merupakan sebuah proses penggambaran kematian perlahannya. Dia mulai kehilangan kemampuan pengelihatan dan juga mengalami luka-luka di sekujur badannya yang secara tiba-tiba muncul entah dari mana. Ada kejadian di mana tubuhnya tertusuk pecahan gelas, dan juga terjepit di pintu. Hal ini menggambarkan keadaan manusia yang mati secara perlahan dan mengenaskan dalam pengasingan.

Akhir buku ini juga sangat brilian. Gregor Samsa akhirnya mati dengan bentuk fisik serangga yang menyedihkan. Namun kematian yang identiknya diisi dengan duka dan memori menyedihkan terhadap orang yang meninggal tidak ditemukan di cerita ini. Kematian Gregor malah dirayakan oleh keluarganya dengan berjalan-jalan. Seolah-olah setelah kematian Gregor, semua beban yang mereka tanggung selama ini hilang sudah. Ironi ini menutup cerita dengan sempurna. Jika di kalimat pertama saya memiliki ekspektasi yang besar terhadap buku The Metamorphosis ini, di akhir cerita saya tersenyum puas dan mulai membuka halaman buku ini, dari awal lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s