Musim Ujian

Aku pernah dengar dari orang-orang kalau ‘katanya’ Tuhan tidak akan menguji seseorang melebihi batas kemampuannya. Meski masih ‘katanya’ tapi aku tahu kalau kalimat itu benar adanya. Di samping itu aku pernah diberi tahu kalau manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Dan sewaktu-waktu bisa saja Tuhan memutuskan untuk mengembalikan ciptaan itu ke sisi-Nya.

Perasaanku tak pernah begini kacau. Karena kesibukan kuliah kadang kekacauan di hati dan kepalaku mesti sembunyi dulu agar tidak mengganggu. Tapi ketika aku dan ragaku tengah terbenam di sebuah kamar –yang di dalamnya tak ada satu pun makhluk berdarah panas bernama manusia– kekacauan itu mulai berlomba-lomba keluar dari dalam. Mereka keluar lewat pori-pori kulitku, juga lubang hidung, atau lewat mulutku yang telah berjam-jam menasbihkan diri sebagai organ miskin bunyi. Kesedihan melonjak kesana-kemari. Tak bisa dibendung lagi.

Tak ada yang lebih menyedihkan dibanding mengetahui orang yang kau cintai tengah ada dalam kesulitan. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat api di mata seseorang yang kau sayangi padam perlahan. Dan terlebih tak ada yang bisa mengalahkan kemalangan si anak yang melihat bapaknya jenuh dihantui takut yang bernama ‘kematian’.

Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana caranya Tuhan di atas sana memilih-milih takdir untuk makhluknya. Bayangkan saja, manusia yang jumlahnya banyak tak terkira—belum lagi binatang dan tanaman, laut, hutan, dan pegunungan, bumi, planet juga cakrawala, sampai bakteri, kutu, dan amoeba— adalah ciptaan-Nya. Apa Tuhan memilih takdir itu secara acak? Ataukah Dia memperkirakan terlebih dahulu sebelum mengetok palu takdir-Nya? Atau mungkin juga Tuhan duduk di atas sana sambil memegang gelas berisi undian yang bila ada nama yang keluar dari sana artinya takdir yang sudah disiapkan adalah miliknya? Mungkin salah satu perkiraanku bisa jadi benar, atau juga ketiganya salah. Tapi kesedihan yang kini bernaung di sesak napas paru-paruku tidak pernah salah.

Sel-sel jahat yang kini sedang bersemayam di pankreas bapak mungkin bisa mendengar dengan jelas lantunan ayat-ayat suci ketika bapak sedang berusaha ‘berbicara’ dengan Tuhan. Mereka itu sel-sel yang luar biasa jahat. Terlampau jahat sampai mampu mengubah sosok lelaki gagah bertubuh gempal jadi sesosok tubuh kuyu dengan tulang-tulang yang jelas menonjol di tubuhnya. Mereka jugalah yang mengubah tawa ceria di rumah kami dengan tangis dan tatap mata sedih.

Aku tahu kalau kami, terutama bapak, tidak boleh sedih apalagi marah. Bukankah terhadap takdir kita harus pasrah? Tapi hati, pikiran, juga jari ini tak bisa berhenti beraksi ketika pikiran sudah mempertanyakan: kenapa sel-sel jahat bernama kanker itu bisa-bisanya memilih pankreas bapak sebagai tempat mereka tumbuh dan menjalar?

Tuhan memang tidak akan menguji seseorang melebihi batas kemampuannya. Tuhan juga bisa saja memanggil pulang ciptaan-Nya kalau Dia sudah rindu. Tuhan bisa melakukan segalanya. Bahkan Dia bisa melakukan ketidakbisaan. Makanya, tanpa amarah apalagi pongah, juga dengan sebongkah rasa pasrah, lewat tulisan ini aku ingin memohon pada-Nya agar dia tak cepat rindu pada bapak. Aku juga ingin mengatakan pada Tuhan bahwa kami; bapak, aku, ibu, dan kakak akan lulus menghadapi ujiannya. Meski nyatanya kami masih mengemis daya untuk bisa lulus daripadanya.

BUhjJ7jCUAA2D0B

One thought on “Musim Ujian

  1. Tuhan selalu rindu akan semuanya di dunia ini, tapi mungkin kembali lagi kepada diri masing-masing manusianya. apakah kita sudah rindu bertemu denganNya saat ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s