Ambrose

AMBROSE

Ambrose[1]

Angin dingin berhembus melewati celah jendela yang setengah terbuka. Hembusannya menggerakkan tirai sebuah kamar dan membuatnya melambai. Seolah melambai pada sosok tua yang duduk diam di atas kursi roda.

Sosok tua itu bernama Ambrose. Ibu Rose, begitu dia biasa dipanggil. Satu bulan belakangan aku selalu menemani nenek tua ini. Ketika dia ada di kamar, ruang tengah, dapur, bahkan kamar mandi, kau bisa pastikan ada aku di sana. Kadang aku hanya memandang sosok lemahnya dari belakang. Kadang juga aku duduk di sebelahnya, menyanyikan lagu-lagu yang kemudian membuatnya tertidur lelap.

Jika melihat sosoknya kau pasti bisa menebak sudah berapa lama dia hidup di dunia. Kulitnya mengkerut persis seperti tomat kisut yang terlalu lama mendekam di kulkas. Kepala yang dihiasi uban terlihat semakin menipis dari hari ke hari. Dan persis orang jompo lainnya, waktu telah mengubah ia menjadi seorang nenek pesakitan. Entah ada berapa banyak penyakit yang riuh mendekam di tubuhnya yang bungkuk itu.

Baru kali ini aku harus menemani orang yang usianya begini tua. Bayangkan saja, tanggal 29 Juli 2016 nanti, Ibu Rose akan merayakan ulang tahunnya yang ke-102. Untuk ukuran nenek berusia setua itu, Ibu Rose masih bisa dibilang cukup sehat. Bahkan di usianya yang lebih tua dari Chairil Anwar – jika dia masih hidup, sayangnya tidak – Ibu Rose masih bisa mengurus dirinya sendiri.

Pagi hari, dia biasa duduk di teras depan rumahnya, menikmati secangkir teh buatannya sendiri. Kadang dengan menggunakan kursi roda, dia berkeliling di taman mawar belakang yang rutin ditata rapih oleh Mak Elok. Perempuan paruh baya ini sudah bertahun-tahun dipekerjakan oleh Ibu Rose sebagai pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah berat yang tidak bisa dilakukan Ibu Rose sendiri.

Selama satu bulan aku bersamanya, aku bisa melihat seberapa besar kepenatan yang Ibu Rose rasakan.

Ada kebiasaan unik yang Ibu Rose selalu lakukan. Setiap hari jam dua siang, dia akan duduk di depan meja telepon sambil memangku sebuah buku tua yang halamannya sudah menguning. Tiap halaman dibaliknya satu per satu. Kemudian dengan jari telunjuk yang berkeriput dia akan menekan tombol telepon sesuai dengan angka yang tertulis di dalam buku. Setelah itu duduk diam menunggu suara yang menjawab di seberang sana.

“Halo, bisa bicara dengan Bu Gili? Ini Bu Rose teman SMA Bu Gili,” begitu sapanya.

Kadang teman SMA yang dihubunginya, kadang teman SMP atau tak jarang ia masih mencoba menghubungi teman SD-nya.

Aku lupa sudah berapa banyak teman lamanya yang dia coba untuk hubungi. Tapi aku tahu pasti kalau hasilnya akan selalu sama, mereka sudah tidak ada. Ya, mereka sudah meninggal.

“Saya turut beduka cita ya. Salam untuk anak-anaknya.”

Bu Ros meletakkan gagang telepon. Lagi-lagi kudapati mata tua yang berkaca-kaca dan helaan napas yang menyesakkan. Hampir setiap hari aku melihat pemandangan ini dan hampir setiap hari juga aku tak kuasa menahan tangis.

Kematian. Sebuah kata yang membuat sebagian orang merinding ngeri saat  mendengarnya. Tapi tidak bagi Bu Rose, baginya kematian adalah hal yang paling didambakan, dirindukan, dan diharapkannya.

Kematian telah menjemput hampir seluruh teman lama yang dia kenal, suami, bahkan anak semata wayangnya. Dia sangat menginginkan kematian, tapi kematian tidak menginginkannya. Maksudku, belum menginginkannya.

**

Kadang aku bertanya-tanya, apa sekiranya alasan Tuhan membiarkanku hidup selama ini. Sangat lama sampai-sampai aku merasa asing di bumi yang sudah lebih dari seratus tahun kutinggali. Aku bingung, apa harus senang atau sedih. Harus bersyukur atau menyumpah. Aku bingung. Sangat bingung.

Hari Minggu kemarin aku mendapat kunjungan dari cucuku satu-satunya, Siri. Semenjak ibunya meninggal dua tahun lalu, dia sering berkunjung ke rumahku bersama suami dan anak perempuannya. Ya, aku bukan hanya seorang ibu. Aku juga seorang nenek dan buyut. Sangat aneh rasanya memang. Tapi ini kenyataan. Kenyataan kalau aku telah hidup melewati empat generasi berbeda!

Pernah suatu kali cicitku yang masih SD duduk di sebelahku. Dia memangku benda sebesar buku dan menyodorkannya padaku. Terlihat seperti televisi tapi bentuknya lebih kecil dan tipis. Di layarnya aku bisa melihat beberapa karakter binatang sedang bernyanyi sambil menari.

“Namanya komputer tablet, uyut,” menyadari wajahku yang kebingungan melihat benda asing tadi, cicitku langsung menjelaskannya padaku.

“Kerjanya seperti komputer uyut, tapi yang ini canggih bisa dibawa-bawa kayak handphone.”

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Sekali lagi aku merasakan keasingan yang teramat sangat. Aku merasa tertinggal.

Sekarang sudah semakin banyak teknologi baru yang bermunculan. Tanpa aku tahu apa fungsinya. Aku kembali merasa asing. Bagaimana bisa hal-hal yang baru muncul dan ada tanpa sepengetahuanku. Apa karena aku sudah terlalu tua? Apa zaman ini sudah tidak lagi memungkinkanku untuk berada di sini?

Pikiranku melayang ketika aku umur enam tahun. Waktu itu aku masih bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Sekolah khusus pribumi yang berasal dari kalangan ningrat, atau pejabat negeri. Ayahku adalah seorang pejabat di Kabupaten Lebak. Posisi pribumi pada masa itu sangat beragam karena meski sama-sama pribumi, masih ada kelas sosial di masyarakatnya. Berbeda dengan aku yang anak pegawai daerah, anak-anak pribumi kelas bawah harus bersekolah di sekolah yang tidak menggunakan bahasa Belanda. Bahkan sebagian anak-anak yang latar belakangnya lebih rendah lagi tidak bisa merasakan bangku sekolah. Kadang aku merasa beruntung karena terlahir sebagai anak pejabat daerah. Setidaknya aku tidak harus berkotor-kotor main di sawah.

Ingatanku membawa pada sosok bocah lelaki kurus kering bernama Dulah, teman sekelas di HIS dulu. Kira-kira tahun lalu aku mencoba untuk menghubunginya dengan mencari tahu nomor rumah anaknya. Setelah bisa kuhubungi baru aku tahu kalau Dulah sudah meninggal bahkan ketika dia baru lulus dari bangku Kweekschool[2].

Suara bising yang mengagetkan menarikku lagi ke dunia nyata. Suara itu datang dari tv di pojok ruang keluarga. Biasanya tv itu tidak menyala, kalaupun menyala, yang aku tonton hanyalah TVRI. Kali ini cicitku menyetel acara musik. Penyanyinya berteriak-teriak bising. Ingin rasanya aku bangkit dan mematikan tv itu. Bagiku semakin hari acara-acara di tv semakin mengganggu saja.

Kuabaikan suara bising tadi dan membiarkan pikiranku mengembara lagi ke masa lalu. Sekarang yang muncul adalah potongan-potongan kenangan saat aku bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS). Jika di zaman sekarang, HBS setara dengan SMA. Saat itu, untuk pertama kalinya aku belajar di sekolah yang sama dengan anak-anak Belanda. Aku ingat bagaimana ayah memaksaku untuk belajar setiap pulang sekolah agar aku bisa masuk HBS. Memang bukan sembarang orang yang bisa belajar di HBS. Selain latar belakang keluarga yang harus dari kalangan ‘pribumi atas’, dibutuhkan juga kemampuan berbahasa Belanda yang baik.

Gaya hidup dan kebiasaanku berubah drastis sejak aku mulai belajar di HBS. Bersama-sama dengan anak Belanda lainnya aku biasa berkeliling kota dan menyambangi bioskop yang terkenal pada masanya. Dari sinilah, ingatanku menyelam lebih dalam lagi.

Malam itu selepas menonton film, di depan gedung Oriental Bioscoop, aku melihatnya. Sosok pria bermata cekung dengan sorot mata yang menyerupai elang. Alisnya tergambar jelas, hitam dan melengkung sempurna. Senyumnya tidak akan pernah aku lupakan. Dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibir tipisnya, senyum itu teramat sempurna.

Uti, kita nanti siang makan di luar yuk? Uti kan udah lama nggak jalan keluar.”

Suara Siri, cucuku, mengusir semua ingatan sempat yang menarik jiwaku pergi ke masa lalu.

“Aduh uti nggak usah ikut ya. Uti di rumah aja, nanti kalian repot nggak bisa jalan-jalan.”

“Ayo ti, ikut aja. Cuma sebentar kok, nanti kalo uti capek kita langsung pulang.” Abid, suami Siri meyakinkanku untuk ikut.

Sungguh serba salah. Kalau aku menolak mereka pasti akan kecewa. Tapi kalau aku ikut. Ah, sungguh tidak bisa dibayangkan. Sudah bertahun-tahun aku tinggal di teritori nyamanku; bangun pagi aku pergi ke dapur,  membuat secangkir teh dan pergi ke teras depan. Setelah itu pergi ke kebun mawar dan berkeliling sebentar sebelum akhirnya kembali ke tempurung nyamanku dengan melakukan aktivitas di dalam rumah.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengecewakan mereka. Aku ikut. Setelah bersiap seadanya aku duduk di kursi roda. Biasanya benda ini tidak kubutuhkan. Kursi roda akan kugunakan hanya kalau ingin berkeliling di kebun mawar. Itupun karena Elok yang memaksaku.

Abid menuntunku ke dalam mobil dan kami lalu melaju ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Sesampainya di sana, setelah makan di sebuah restoran, kami langsung pergi ke toko buku untuk mencari buku keperluan cicitku.

Uti mau lihat-lihat buku apa?”

“Aku duduk di sini aja. Kamu lihat-lihat sendiri aja ya . Nggak apa-apa kok uti ditinggal. Kan pake kursi roda.”

Aku tahu Siri ingin berpetualang mengelilingi toko buku menyusul anak dan suaminya yang sudah terlebih dahulu membenamkan diri di antara labirin rak buku. Tak akan kubiarkan keberadaanku malah menahannya untuk berkeliling. Kegemaran Siri membaca buku jelas diwariskan oleh anakku, Eva. Sejak kecil sampai akhir hidupnya, Eva tak pernah sedetikpun melepaskan buku dari sisinya.

Kalau saja dia belum meninggal, pasti dia akan sangat bahagia berkeliling toko buku bersama anak, menantu, dan cucunya. Kenapa Eva harus lebih dulu mati. Harusnya aku yang lebih tua bangka ini yang mati duluan.

“Yaudah ti nggak apa-apa ya aku kesana sebentar, nanti aku balik lagi. Uti di sini aja ya jangan kemana-mana, kalo ada apa-apa panggil aku aja.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kuarahkan kursi rodaku menuju pojok rak buku. Tempat yang paling aman, pikirku. Toko buku di hari Minggu cukup ramai dan jika aku duduk di tengah-tengah jalan, kursi rodaku pasti menghalangi orang yang lalu-lalang.

Tak sengaja mataku terarah ke sebuah buku yang tergeletak di rak pojok.

Sejarah Pergerakan Pers ‘Kiri’

Begitulah yang tertulis di sampulnya. Aku diam mematung. Tanpa kusadari buku itu sudah kuraih dan tergeletak di pangkuan. Buku ini membawa lagi ingatan masa lalu. Ingatan yang enggan untuk kubawa kembali ke masa ini.

**

Usiaku limapuluh enam. Aku masih lah seorang perempuan setengah abad yang bahagia. Aku punya satu orang anak perempuan dan suami yang amat kucintai. Kami tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun nyaman. Suamiku bekerja di sebuah surat kabar nasional. Meskipun penghasilan yang dia miliki sangat cukup untuk kehidupan keluarga kami tapi aku selalu memaksanya untuk berhenti bekerja di sana.

“Aku kan sudah bilang mas, nggak usah kerja di sana lagi. Ini udah ketiga kalinya aku ngerasa diikutin orang.”

Aku berteriak dengan mata yang berkaca-kaca. Seperti de javu rasanya. Karena bukan pertama kalinya aku berteriak-teriak seperti ini meminta suamiku untuk berhenti kerja. Jika sudah begini suamiku hanya terdiam sambil tersenyum. Tatapan matanya yang teduh selalu berhasil membuatku terpesona. Senyuman dan matanya masih sama dengan senyuman di depan Oriental Bioscoop dulu.

“Aku cinta sekali Rose sama pekerjaanku. Aku tahu kita akan baik-baik aja. Kamu percaya ya.”

Jawabnya sambil lagi-lagi melemparkan senyum yang membuatku tak bisa lebih jauh membantahnya.

Suamiku memang terlampau cinta dengan pekerjaannya. Dia memulai karir sebagai wartawan dari bawah hingga sekarang mencapai posisi pemimpin redaksi di setengah abad usianya. Tapi aku khawatir. Sangat khawatir. Surat kabar tempat dia bekerja bukanlah surat kabar biasa. Isi beritanya mengkritik pemerintahan secara radikal. Visi misi mereka bahkan serupa dengan Partai Komunis Indonesia. Meski surat kabar itu bukan secara langsung digerakkan oleh PKI namun tetap dianggap surat kabar harian ‘kiri’.

Tak jarang rumah kami dilempari bangkai ayam. Atau pernah suatu pagi, di depan pintu rumah kami ada kotak berisi darah – entah darah hewan atau manusia – dan juga surat bernada ancaman. Sebenarnya aku sudah kebal dengan hal-hal seperti ini. Sudah limabelas tahun sejak suamiku bergelut di dunia pers kiri ini. Namun tetap, rasa khawatirku masih sering muncul. Apalagi jika membayangkan suamiku harus bernasib sama dengan teman-teman wartawan yang lain.

Benar saja, yang kutakutkan terjadi.

“Mas mau makan pake ayam atau telor dadar nanti aku gorengin kalo mas mau ayam.”

“Udah Ros yang ada aja lah. Makan pake telor sama kerupuk juga enak asal makannya sama istri dan anak tercinta.”

Suamiku melirik kearahku kemudian kearah Siri, anak kami, yang sudah duluan sibuk dengan santap malamnya.

Tok tok tok

Tiba-tiba ada suara pintu depan diketuk. Aku langsung berpikir bahwa itu anak buah suamiku yang memang biasa datang malam-malam. Selain ingin mengobrol dengannya  yang wartawan senior, biasanya para wartawan bujang itu seringkali numpang makan.

Suamiku menyambangi pintu depan. Tapi tidak ada suara riuh seperti biasa dia menyambut teman wartawannya. Cukup lama, dia belum kembali juga ke ruang makan.

Sampai akhirnya dia kembali dengan wajah pucat. Dia melirik kearahku dan Eva sebelum akhirnya mengucapkan satu kalimat yang sering sekali mampir di mimpi burukku setelah kepergiannya.

“Maaf ya aku harus pergi di saat makan malam. Kalau nanti aku pulang pasti kita makan malam bersama lagi. Aku janji Rose. Jaga dirimu, dan Siri. Aku pamit.”

Di belakangnya sudah ada tiga orang berbadan kekar dengan wajah yang sekilas sulit ditebak ekspresinya. Tapi aku langsung paham apa yang ada di pikiran mereka. Aku tahu juga apa yang ada di pikiran suamiku. Di waktu yang sama aku juga sadar kalau ini merupakan malam terakhir kita makan bersama. Malam terakhir aku melihat suamiku.

Uyut, ayo kita udah selesai. Makan dulu yuk.”

Cicitku berteriak memanggilku sambil setengah berlari menghampiriku. Aku mengangguk dan tersenyum. Kursi rodaku meluncur pelan ke depan persis seperti air mataku yang juga meluncur pelan dari ujung mata.

**

Sepulangnya Bu Rose dari berjalan-jalan tadi, dia terlihat semakin tidak bersemangat. Jika biasanya dia sibuk membolak-balikkan tiap halaman di buku telepon miliknya, sekarang dia hanya duduk menghadap jendela dan mematung.

Aku tahu yang dia alami di toko buku tadi membawa kenangan buruk yang sebenarnya ingin ia singkirkan jauh-jauh. Mengingat perpisahan antara dia dan suaminya yang begitu mendadak, amatlah tragis.

Sungguh, dari hatiku yang terdalam, aku sangat ingin membantunya. Menyelamatkannya dari semua siksaan dunia yang terlalu lama ditanggungnya. Menolongnya keluar dari jeratan dunia yang semakin menyerupai neraka dan mengajaknya mengelilingi taman kami yang dibangun di atas awan. Mengajaknya bersiul dan terbang mengitari sungai indah dengan bau-bauan bunga yang belum pernah ia hirup di dunia. Tapi apa dayaku. Memang ini belum waktunya. Aku masih menunggu sampai tiba waktu yang memang miliknya. Tapi kapan? Sampai kapan dia akan begini menderitanya?

Saat benakku berada dalam pergolakan yang dahsyat, tiba-tiba Bu Ros menoleh ke arahku. Seolah-olah ia bisa melihat aku yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin dia bisa melihatku. Jelas-jelas aku tidak terlihat oleh manusia.

“Sudah berapa lama kau mengikutiku?”

Aku terkejut tak percaya. Benar-benar tak paham dengan apa yang baru saja aku alami.

“Sudah berapa lama kau mengikutiku?”

Dia mengulang pertanyaannya sekali lagi. Dengan terbata-bata aku meyakinkan bahwa yang dimaksud Bu Rose adalah aku.

“Kkkkau? Kau bisa melihatku?”

“Bagaimana bisa aku tak melihatmu. Kau ada di mana saja kemana aku pergi. Sampai-sampai ke kamar mandipun kau buntuti aku”

Aku tidak bisa berkata-kata. Pasti ada kesalahan di sini. Kenapa aku bisa tidak sadar kalau selama ini Bu Rose bisa melihatku. Benar-benar bodoh aku ini.

“Dengar nak, apapun tujuanmu mengikutiku itu pasti ada hubungannya dengan tempat di mana aku akan pergi nanti setelah aku mati. Aku sudah menunggu kapan kau akan bawa aku ke sana.”

Aku masih terdiam belum bisa berkata apa-apa.

“Tapi alih-alih kau bawa aku ke sana, kau malah membuntutiku tak jelas maunya apa. Jadi katakan, bagaimana caranya aku bisa cepat sampai ke sana?”

“Aku belum bisa membawamu, ini belum waktumu.”

“Jadi kapan waktuku?”

“Aku tak tahu pastinya tapi yang jelas belum sekarang.”

Bu Rose terdiam sesaat dan kembali menatap kebun lewat jendela. Dia pasti memikirkan sesuatu, tapi aku tak tahu pasti apa yang dia pikirkan.

“Dengar nak, aku muak hidup begini terus. Kau tahu kan bagaimana aku sekarang? Aku hanya si tua bangka pesakitan yang masih hidup tapi seperti sudah mati. Aku sudah tak ada gunanya lagi. Baiknya kau sekarang bawa aku kesana atau beri tahu bagaimana caranya bisa kesana.”

Aku bisa mengerti perasaan Bu Rose. Ya persis seperti katanya, dia masih hidup tapi seperti sudah mati. Hampir semua orang yang ia sayang sudah pergi ke alam yang berbeda dengannya. Bumi yang dia tinggali juga sudah berubah dan tidak lagi sama seperti di masa-masa lalunya. Tapi untuk membawanya ke sana? Aku belum bisa.

Bu Rose masih menatap mataku. Mata tuanya menunggu jawaban yang terlontar dari mulutku. Apakah aku harus melakukan ini? Aku tahu ini akan sangat menyedihkan, dan menyakitkan, tapi aku lebih tahu Bu Rose pasti akan lebih bahagia karenanya. Ya, aku harus melakukannya.

**

Angin dingin berhembus melewati celah jendela yang setengah terbuka. Hembusannya menggerakkan tirai sebuah kamar dan membuatnya melambai. Seolah melambai pada sosok tua yang duduk diam di atas kursi roda.

Sosok tua yang bernama Ambrose itu terlihat sangat bahagia. Senyum yang indah seindah bunga mawar menghiasi wajahnya. Aku masih berdiri di sampingnya. Membelai kepalanya yang penuh uban dan setengah botak. Tak ada setetespun air mata yang jatuh di pipiku. Aku menahannya. Tidak seharusnya aku menangis.

Bercak darah segar dari pergelangan tangannya seolah menggambar corak warna sendiri di daster putih yang melekat di tubuh tuanya. Darah itu persis seperti bunga mawar yang sedang mekar. Sebuah pisau yang sama berdarahnya tergeletak bisu di bawah lantai. Di balik mata yang terkatup itu pasti Bu Rose sekarang sudah berada di sebuah taman di atas awan. Berpelukan mesra dengan suami, anak, juga teman-teman lama yang terlebih dulu pergi meninggalkannya.

[1] Abadi, keabadian dalam bahasa Yunani

[2] Sekolah keguruan jaman penjajahan Belanda. Lulusannya bisa menjadi guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s