GARA-GARA INDIA

FullSizeRender

“Wah mancung, Pak anaknya.”

“Ini anak atau keponakan Bapak?”

“Oalaaaah kok mirip Shahrukh Khan?”

“Ibunya orang India ya?”

 

Sudah luar biasa kebal rasanya mendengar komentar dan pertanyaan tadi. Ketika aku sedang pergi bersama anak semata wayangku, pasti ada saja orang-orang yang berkata semacam ini. Aku sama sekali tidak menyalahkan mereka. Karena memang harus kuakui kalau wajahku maupun istriku, sama sekali tak ada mirip-miripnya dengan orang India. Tapi anakku yang minggu depan akan menginjak umur 10 ini, memiliki wajah yang mirip pedagang tekstil di Pasar Tanah Abang.

Kalau boleh menyalahkan, aku ingin sekali menyalahkan istriku. Kau tahu kenapa? Karena sejak usia lima bulan mengandung Raj, dia sudah mulai kegandrungan India. Bagaikan budaya K-Pop yang menyerang masyarakat Indonesia belakangan ini, istriku justru terkena virus budaya India. Bukan hanya film India tapi juga musik, pakaian, bahkan makanannya!

“Mas, bangun…”

“Eh, ada apa? Perutnya sakit?”

“Enggak Mas, aku ngidam. Beliin aku nasi briyani dong.”

Sebisa mungkin aku selalu menuruti kemauan Istriku di saat hamil. Karena mitosnya kalau keinginan ibu hamil tidak terpenuhi, anaknya akan ngences melulu. Waktu itu jam sebelas malam dan aku harus rela mengelilingi daerah Jakarta Selatan hanya untuk menuruti ngidam Istriku.

Bukan hanya itu saja yang membuatku jengkel. Jika lazimnya ibu hamil akan melakukan senam hamil, hal berbeda justru terjadi pada Istriku. Sudah kusarankan padanya supaya dia mau ikut kelas senam hamil. Tapi aku harus menerima kenyataan pahit kalau Istriku bukanlah ibu hamil biasa. Setiap pagi dia melakukan senam dengan gerakan-gerakan yang membuatku ngeri. Jelas ngeri, karena dia senam diiringi lagu Khabhi Khushi Khabhi Gham atau kadang-kadang Koi Mil Gaya! Selain itu, hampir tiap pagi, siang, sampai malam, dia selalu menyempatkan diri menonton film India. Bahkan anggaran belanjaan bulanan kami bertambah untuk membeli ekstra tisu. Untuk apa? Untuk mengelap air mata dan ingus Istriku setelah nonton film India!

Cobaanku tak berhenti sampai masa-masa kehamilannya saja. Bahkan sampai sekarang, di usia pernikahan kita yang sudah lebih dari sepuluh tahun, aku masih kerap disiksa. Siksaan itu datang dari poster Shahrukh Khan di dinding meja makan. Coba kau bayangkan! Perasaanku makan sambil ditatap lelaki dengan pandangan menggoda macam dia! Sungguh gila!

Hari Minggu ini aku melarikan diri dari siksaan Istriku di rumah. Aku sengaja tidak mengajak Raj karena aku diam-diam akan membelikannya kado remote control. Untuk ulang tahunnya yang masih minggu depan, aku sudah menyiapkan banyak kejutan, termasuk juga kado ini.

“Wah kadonya harus disembunyikan di tempat aman ini. Kalau Raj tahu kan jadi nggak kejutan lagi,” batinku.

Sesampainya di rumah, aku memastikan kalau Raj masih main di rumah tetangga. Setelah yakin keadaan aman, kuturunkan kotak sebesar kardus mie instan dan kuboyong ke gudang. Ya, di sini tempat yang paling aman. Kupilih lemari tua di pojok ruangan dan kubuka perlahan salah satu lacinya.

Prak!!

 Ada kotak yang terjatuh. Seingatku aku belum pernah memiliki kotak seperti ini. Tak sengaja, salah satu kertas di dalamnya menyembul keluar. Kubuka perlahan kertas yang sudah mulai menguning itu.

Lastri, maaf aku harus pergi tanpa pamit. Tolong jaga anak kita. Kalau nanti aku pulang ke Indonesia akan kujenguk dia. Jangan lupa beri nama dia Raj. Aku mencintaimu.

Di dalam kotak itu, kutemukan banyak foto. Foto Lastri, Istriku dan seorang pemuda dengan wajah serupa orang India.

 

Dimuat dalam kumpulan cerpen Kata Mitos

07-06-2013, 05:05 PM

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s