racau

112223344_PopArt_11

Aku adalah langit sepi

yang dibenci para perindu bintang

Aku ruang hampa

yang tak disapa pemburu kegaduhan

Aku lembar buku

yang hilang terselip entah di mana

Aku adalah refleksi kesedihan yang nyata

Kelewat nyata hingga apa yang aku anggap ada

sirna

Sudah aku coba untuk jejaki bumi yang sama

dengan manusia

Sudah berusaha mati-matian menyerupai mereka

Tapi nyatanya  hidup mereka hanya bualan semata

Sedetik mereka merasa jenius keterlaluan

Sedetik kemudian justru berkeringat mengucap kebodohan

Karena kata dan karena suara, hidup mereka tak lagi sederhana

Karena bahasa dan nada-nada, hidup bukan lagi selamanya suka

Sebabnya aku lebih suka diam

Sebabnya aku berusaha tak menyerupai manusia

Bak ada pembeda di antara aku dan mereka

Mereka yang bisa berjalan tegak bahkan di hadapan khalifah-khalifah Tuhan

Khalifah yang agung, diagungkan, dan mengagungkan

Sangat agung sementara kita binatang

Mereka yang menulis sendiri kitab yang tak dimaktub

mereka yang bernaluri tapi liar dan berdosa

mereka dan aku yang begitu porak-poranda

Akibat mimpi yang dirajut manusia-manusia yang masih ada

dan manusia-manusia sebelum kita

Masih aku setengah percaya: mengapa mereka sebentar bangga sebentar kecewa

Kenapa harus kecewa: sementara kita begitu nyaman di pelukan suara?

-“-                             kalau kita masih seribu persen bergantung pada kata-kata?

Aku belum sepenuhnya paham menyoal manusia

Baiknya lain kali kutulis lagi puisi tentang mereka

 

Sekarang aku lelah, mengantuk, mau tidur saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s